Selasa, 11 Desember 2012

 PERMAINAN ANAK TRADISIONAL

JARANAN
Jaranan bukan permainan kompetitif. Anak-anak membuat kuda-kudaan dari pelepah pisang dan berimajinasi menirukan para bangsawan tempo dulu yang berkeliling kampung menunggang kuda besar dan gagah. Sambil bermain, mereka menyanyikan lagu jaranan.
Lirik lagunya seperti ini:


Jaranan jaranan jarane jaran Teji
Sing numpak Mas Ngabehi, sing ngiring para abdi
Jrek jrek nong, jrek jrek gung jrek ejrek turut lurung
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher
Gedebuk krincing gedebuk krincing thok thok gedebuk jedher



BENTHIK
Benthik membutuhkan alat berupa dua patahan ranting panjang dan pendek. Ranting panjang sebagai pemukul. Pada intinya, benthik memperagakan ketrampilan memainkan ranting kecil dengan memukul dan mengarahkan agar tidak tetangkap oleh lawan.


BEKELAN (BAL BEKEL)
Bekelan mengadu kecepatan menangkap bola dan mengatur bekel. Setiap kali pemain melemparkan bola keatas, sebelum bola ditangkapnya kembali, ia harus mengambil dan mengatur bekel yang lain sesuai urutan permainan. Jika bola jatuh ia kalah.






JAMURAN
Jamuran biasa dimainkan lebih dari tiga orang anak, sebenarnya merupakan sarana bernyanyi dan begembira bersama. Diakhir lagu, para pemain akan membuat sebuah jebakan untuk menangkap salah satu peserta yang bertugas untuk menjadi "pelaku" dalam lagu berikutnya.
Lirik lagunya adalah sebagai berikut:
Jamuran ya ge ge thok
Jamur apa ya ge ge thok
Jamur gajih mberjijih sak ara-ara
Semprat-semprit Jamur apa



ENGKLEK

Engklek mengkombinasikan ketepatan melempar pecahan genteng kedalam kotak-kotak dan kemampuan menjaga keseimbangan, karena saat melewati kotak-kotak yang sudah dibuat, setiap pemain harus melompat-lompat dengan satu kaki diangkat, dan tidak boleh menyentuh garis.


LAYANGAN
Layangan ideal dimainkan di tanah lapang saat musim kemarau dengan angin kencang. Layang-layang yang diterbangkan, bebas diserang lawan dengan cara mengadu tali layang-layang yang telah diberi bubuk pecahan kaca atau benang gelasan. Siapa mampu memutuskan benang lawan dinyatakan menang.




GRAPYAK
Grapyak mengadu keseimbangan dan kekompakan tim. Setiap kelompok biasanya terdiri dari tiga orang anak mengenakan sandal tandem terbuat dari kayu.
Pemenangnya adalah kelompok yang tidak terjatuh dan tercepat mencapai garis akhir.

KETHOPRAK


Menurut sejarah kethoprak lahir pada tahun 1887. Pada awalnya Ketoprak hanya berwujud permainan bagi para lelaki didesa sebagai hiburan sambil menabuh “lesung” (alat yang sebenarnya berfungsi sebagai alat/tempat untuk menumbuk gabah/padi supaya menjadi beras) pada saat bulan purnama. Hal ini sering juga disebut sebagai “gejog lesung”
Namun semakin lama ketoprak semakin digemari oleh banyak orang. Dan karena kebiasaan akhirnya ketoprak mampu dijadikan sebagai salah satu budaya masyarakat, dan bisa bersinergi dengan kesenian yang lainnya.

Disebabkan pada awalnya hanya diiringi oleh alat ‘tetabuhan lesung’ ketoprak dulunya juga sering disebut “gejog lesung”. Seiring dengan keadaan berjalan selanjutnya ada tambahan alat musik lainnya seperti kendang, terbang dan suling. Pada tahun 1909 baru dimulai adanya pergelaran ketoprak secara sempurna.

Ketoprak Wreksatama yang diipersembahkan oleh Ki Wisangkara adalah awal pagelaran ketoprak digelar secara resmi didepan umum yang semua pemerannya adalah laki-laki. Cerita yang digelar adalah Warsa – Warsi, Kendana – Gendini, Darma – Darmi, dan lain sebaginya.

Setelah itu semakin lama perkembangan seni ketoprak semakin menarik dan kreatif dengan bermacam cerita juga iringan musik gamelannya sehingga membuat semakin digemari masyarakat. Terutama dilingkunga wilayah Jokjakarta. Dan pada perkembangannya terjadi banyak macam cerita serta diiringi berbagai macam alat musik gamelan juga.

Pergelaran kethoprak dapat dibedakan sebagai berikut:

  • Kothekan Lesung, Ini adalah cikal bakal ketprak yang pada akhirnya mampu menjadi satu pergelaran.
  • Kethoprak Lesung Wiwitan, Awal mula dari tetabuhan lesung yang diiringi oleh tari-tarian sebagai tanda kesenangan bersyukur padaNYA karena telah dilimpahkan panen padi yang berkecukupan. Diselingi juga dengan cerita-cerita rakyat. Awalnya diperankan hanya oleh mereka para petani.
  • Kehtoprak Lesung, Mewujudkan pergelaran lengkap dengan cerita rakyat diiringi gamelan seperti gendang, seruling, rebana dan juga lesung. Inilah cikal bakal lahirnya kethoprak.
  • Kethoprak gamelan, Berawal dari ketoprak Lesung dilengkapi dengan cerita Panji dan mengenakan pakaian ‘Mesiran’ (Baghdad)
  • Kethoprak Gamelan Pendapa, Ceritanya hanya seputar cerita “Babad”. Yang digelar diatas panggung didalam gedung pendapa, yaitu salah satu bangunan Jawa kalau saat ini bisa juga disebut sebagai aula.
  • Kethoprak Panggung, adalah jenis pergelaran terakhir dari Kethoprak. Yang dipertunjukkan diatas panggung dengan cerita campur. Bisa berwujud cerita rakyat, sejarah, babad, bisa juga cerita adaptasi dari manca Negara (Sampek Ingte, Baghdad, Turkey, dll)
Pada saat ini pertunjukan kethoprak sudah dapat dinikmati oleh masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Semakin professional dengan pertunjukan yang digelar menggunakan tiket masuk. Dan sebagian mampu menjadi tambahan penghasilan bagi sejumlah pemain dan penabuh gamelan. Tehnik pergelaran cerita dibuat semakin menarik dan creative sesuai kehendak penggemar. Sebagai contoh dapat dilihat dari Kethoprak “Siswa Budaya” dari Tulung Agung yang telah mampu menjadi idola masyarakat pecinta Kethoprak.

Rupa warna cerita dalam kethoprak adalah cerita rakyat, dongeng, babad, legenda, sejarah, dan adaptasi dari cerita Negara lain. Sebagai Contoh adalah karya Shakespeare; pangeran Hamlet Sampek Eng Tay. Juga cerita-cerita buku: Darma-Darmi, Warsa – Warsi, Kendana-Gendini, Abdul Semararupi, Yang tergolong sebagai Cerita MENAK. Sedang Cerita Panji adalah Panji Asmarabangun, Klana Sewandana. Dan masih banyak cerita lainnya lagi, Ande-ande lumut, Angling Darma, Rara Mendut, Damar Wulan, Rangga Lawe, Jaka Bodho…….
Biasanya ceritanya adalah tentang kisah peperangan dan kepahlawanan, kesemuanya itu mengandung pesan tentang kebaikan dan kejujuran yang pada akhirnya nanti akan terkuak kebenarannya.

Mengenai pakaian yang dikenakan para pemeran kethoprak sesuai cerita yang dimainkan. Biasanya mengenakan pakaian adat kebangsaan kerajaan di Jawa. Dan juga ada pakaian yang menyiratkan simbolis sesuai yang diperankannya. Misalnya apabila sedang memerankan orang yang berperilaku adil dan bijak biasanya mengenakan pakaian “Cemeng” (kalem). Orang yang suci biasanya mengenakan pakaian berwarna putih. Pemberani identik dengan pakaian merah. Sedangkan cerita Baghdad mengenakan “Ageman Mesiran” (Pakaian ala Mesir) seperti Sutra misalnya. Pakaian wayang orang juga sering dikenakan dalam memerankan pertunjukan kethoprak, terutama sering dikenakan oleh masyarakat Jawa bagian utara (Pesisir lor). Sebagai contoh adalah cerita Angling Darma, dan juga Minak Jinggo/Damar Wulan.
Ada juga pakaian yang disebut sebagai “Ageman Basahan”, Yaitu pakaian kejawen namun dicampur dan di ,kombinasikan, sepeti batik, beskab, Surban, dan juga Jubah. Ini biasanya pada cerita Menak atau cerita para wali/para ulama Islam didalam Praja.

Yang jadi ciri utama kethoprak adalah: Cerita dengan para Nayaga/Pemain, diiringi oleh tabuhan gamelan, Pakaian sebagai ‘tetenger’ (pertanda) kethoprak yang sedang dimainkan. Dan juga lantunan tembang/lagu yang sekaligus menjadi pengiring adegan baik dialog maupun monolog atau juga sebagai narasi.

Sumber dari njowo multiply

Sabtu, 24 November 2012

Wayang Kulit


1. SEJARAH
Wayang Kulit Jawa dikatakan berasal dari Wayang Kulit Purwa Jawa, Pulau Jawa, Indonesia. Patung-patungnya membawa watak dari cerita Mahabratha dan cerita- cerita Panji. 
Wayang kulit ini diperkenalkan ke negeri Kelantan pada 1834 oleh seorang tok dalang Melayu selepas mempelajari teknik-teknik Tok Dalang di Pulau Jawa. 
Watak wayang kulit ini ialah Sang Kula, Raden Galoh Cendera Kirana, Arjuna, Sang Dewa dan Raden Inu KartapatiWayang Purwo pula terdapat di bahagian Selatan Pantai Barat Semenanjung     terutamanya di Johor yang mengetengahkan episod dari kitab Mahabrata dan cerita Panji 

Pada asasnya kesemua bentuk atau jenis wayang kulit yang terdapat di Semenanjung Malaysia mempunyai pengaruh-pengaruh samada dari Jawa atau Patani (Selatan Thai)
Dalam perkembangannya semua pengaruh ini telah mengalami perubahan dan  penyesuaian mengikut penerimaan dan konteks masyarakat tempatan
Perkara ini berlaku adalah kerana wayang kulit pada dasarnya merupakan satu alat perhubungan masyarakat di samping satu rupa pengutaraan kesenian

2. PENGENALAN
Wayang ini dimainkan oleh penduduk keturunan Jawa. 

3. ISI CERITA
Cerita wayang ini berdasarkan cerita Pendawa Jawa yang disadur dari epik Mahabharata India. Ceritanya tidak memperlihatkan pengaruh cerita panji.

4. PATUNG-PATUNG
Patung-patung ini menyerupai patung wayang kulit Kelantan. 

Perbedaan yang nyata adalah dari segi bentuk mata patung:

  - Mata Jaitan untuk watak pahlawan
  - Mata pepelangan untuk watak jahat
  - Mata prebes untuk watak pertapa

5. ALAT MUSIK 
Alat Musik wayang purwa berbeda dengan wayang lain kerana terdiri dari :

- Gong besar (gong Agong)      
- Gong suwukan   
- Gambang
- Kempul
- Kenong
- Gender
- Slentem
- Demung
- Saron
- Peking (saron penerus)
- Ketok / kompang
- Rebab  
- Gendang

Jenis-jenis lagu yang dimainkan ialah seperti Lagu Bertabuh,Perang, Sri Rama, Kabar Manja, Buluh Seruas, Pandan Wangi dan banyak lagi. Wayang purwa diiringi oleh satu kumpulan gamelan.

6. BAHASA
Wayang Purwa disampaikan dalam dalam bahasa Jawa dan diselit dengan bahasa Melayu tempatan.

http://wayangkulitsmp2252.blogspot.com/2010/10/wayang-jawa-purwo.html

Gamelan


Gamelan adalah musik yang tercipta dari paduan bunyi gong, kenong dan alat musik Jawa lainnya. Irama musik yang lembut dan mencerminkan keselarasan hidup orang Jawa akan segera menyapa dan menenangkan jiwa begitu didengar.


Gamelan, Orkestra a la Jawa
Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.
Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.

Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.
Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 - 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/performance/gamelan-show/